Search Results
96 results found with an empty search
- The Crown: Suara Emas dari UIC College of Music Menggema di Gedung Kesenian Jakarta
Jakarta, 02 Juli 2025 – Di tengah era digital dan kebangkitan industri kreatif, Indonesia membutuhkan lebih dari sekedar talenta, kita butuh suara yang berani, otentik dan siap bersinar di panggung dunia. Gedung Kesenian Jakarta menjadi saksi lahirnya suara tersebut: Queennara, penyanyi, penulis lagu dan content creator, dalam resital musik bertajuk “The Crown”. Konser ini merupakan bagian dari DVISVARA Annual Recital Series, platform eksklusif bagi mahasiswa UIC College dalam menampilkan pencapaian artisitik dan akademik mereka. Di balik gemerlap panggung dan kemegahan aransemen live string dan brass section, “The Crown” menjadi perwujudan keberanian, elegansi, dan transformasi emosional. Satu-Satunya Pathway Musik Internasional di Indonesia Sebagai bagian dari USG Education, ekosistem pendidikan Internasional terpercaya di Indonesia, UIC College merupakan satu-satunya program pathway musik akademis berstandar internasional. Melalui kurikulum BTEC dari Inggris, siswa dapat menempuh studi 1 (satu) hingga 2 (dua) tahun di Indonesia, sebelum melanjutkan studi ke universitas – universitas terkemuka dunia untuk meraih gelar sarjana. Program Artist Development di UIC College of Music dirancang tidak hanya untuk mengasah keunggulan akademis dan keahlian praktikal, tetapi juga menumbuhkan ide-ide kreatif dan inovatif yang otentik. Ini adalah ruang di mana seniman muda dipersiapkan untuk memperkaya industri musik, baik di dalam maupun luar negeri. “Queennara adalah contoh nyata dari filosofi pendidikan kami: membentuk seniman yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga kuat dalam menyuarakan identitas dan nilai personalnya,” ujar Niluh Komang Aimee Sukesna atau biasa dikenal sebagai Aimee, Kepala Kampus USG Education BSD. The Crown: Musik, Jati Diri, dan Transformasi Dalam konser The Crown, Queennara membagikan kisahnya, sebuah perjalanan musikal yang ia racik sendiri selama menempuh studi di UIC College of Music. Bertema Empowerment, Elegance, and Emotional Transformation, konser ini menjadi deklarasi jati diri. “The Crown adalah simbol perjalanan saya sebagai perempuan, seniman, dan individu yang sedang belajar untuk berdiri tegak dengan cerita dan suara sendiri. Ini bukan semata soal status, tetapi tentang keberanian menjadi diri sendiri di dunia yang terus berubah. UIC College bukan hanya memoles saya untuk meraih cita-cita di industri musik, tapi juga membantu mewujudkan impian saya untuk mengembangkan pengetahuan hingga ke luar negeri,” ujar Queennara. Konser ini menjadi puncak pencapaian Queennara selama belajar di UIC College BSD, memperlihatkan dedikasi dan perkembangan artistiknya. Sebelumnya, ia juga memukau publik melalui Junior Recital di ZODIAC Jakarta. Kini dengan skala yang lebih besar, Queennara menggandeng musisi profesional dari band Asian Beat, serta tampil di hadapan tamu-tamu istimewa seperti produser musik, penyanyi, presenter TV, hingga figur publik dan pelaku industri kreatif lainnya. Queennara, musisi muda dengan suara kuat, visi jujur, dan pesan berani, membawakan karya-karya musik pilihan yang mencerminkan perjalanan emosional dan kepekaan artistiknya. Dari soft rock ballads, cinematic pop, hingga alternative R&B, seluruh komposisi dikemas dalam aransemen live yang teatrikal dan menyentuh. Gedung Kesenian Jakarta, dengan keanggunan klasik dan akustik superiornya, menjadi panggung yang ideal untuk pertunjukan ini. Dukungan Penuh dari USG Education “The Crown bukan sekadar konser. Ini adalah cermin potensi besar generasi muda Indonesia di industri kreatif dunia,” ungkap Adhirama G. Tusin, CEO USG Education. “Melalui kurikulum berbasis industri dan pengalaman belajar dunia nyata, UIC College membekali siswa dengan lebih dari sekadar ijazah, kami membentuk karakter dan kesiapan untuk bersaing secara global.” Program-program UIC College memang berfokus pada real-world learning: mulai dari produksi musik, kolaborasi profesional, penciptaan karya orisinal, hingga manajemen diri sebagai artis independen. Semua ini diajarkan langsung oleh para praktisi dan mentor berpengalaman. “Yang membuat recital ini spesial bukan hanya kualitas musiknya, tapi juga keberanian artistiknya. Queennara membuktikan bahwa musik bisa menjadi tempat membagi rasa, ia menyampaikan cerita, emosi, dan refleksi dengan cara yang menyentuh,” ujar Irman F. Saputra, Koordinator Akademik UIC College Musik. Dengan ribuan alumni yang kini berkiprah di berbagai belahan dunia, USG Education terus menjalankan misinya: membuka akses pendidikan internasional yang terjangkau, berkualitas, dan relevan untuk masa depan. Melalui program seperti TBI, UJC, Uniprep, UIC College, dan Unistart, USG Education membangun ekosistem pembelajaran menyeluruh, dari tingkat dasar hingga universitas luar negeri. “Kami di UIC College percaya bahwa pendidikan seni bukan hanya tentang teknik, tapi juga tentang karakter, refleksi diri, dan keberanian mengekspresikan suara personal. Queennara adalah bukti nyata bagaimana siswa kami berkembang menjadi seniman yang otentik dan relevan,” tutup Aimee. Melalui konser seperti The Crown, UIC College of Music menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi seniman Indonesia yang siap menginspirasi dunia melalui karya dan karakter. Karena di sinilah semua mimpi besar bermula. It all starts here.
- CAMBRIDGE CELTA: SERTIFIKASI PENGAJAR YANG MAKIN DICARI UTC MEMPERLUAS AKSES PELATIHAN BERSTANDAR INTERNASIONAL DI INDONESIA
Di tengah meningkatnya mobilitas studi dan kerja lintas negara, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah. Yang makin dicari justru kualitas pengajarnya, mereka yang mampu mengajar dengan metode teruji, praktik kelas yang kuat, dan standar yang diakui secara internasional. Di sinilah Cambridge CELTA ( Certificate in Teaching English to Speakers of Other Languages) menjadi pembeda. CELTA bukan sertifikat teori mengajar, melainkan kualifikasi yang menempatkan kompetensi pengajar pada ukuran yang jelas. Keterampilan mengajar nyata di kelas, dinilai secara terstruktur, dan dikawal oleh standar Cambridge. Bukan Sekadar Sertifikasi: CELTA Menguji Kompetensi di Kelas Salah satu kekuatan CELTA adalah pelatihannya yang intensif dan benar-benar berbasis praktik mengajar. Cambridge menjelaskan bahwa program CELTA mencakup minimal 120 jam pembelajaran , yang memadukan teori inti dengan praktik di kelas, termasuk pengalaman mengajar nyata, umpan balik terstruktur dari tutor, serta penilaian melalui praktik mengajar dan tugas tertulis. Dengan struktur seperti ini, peserta tidak hanya belajar ’cara mengajar’, tetapi dibimbing untuk membangun standar mengajar yang jelas dan terukur. Mulai dari merancang pembelajaran yang efektif ( lesson planning yang terarah), mengelola kelas dan dinamika peserta didik, menyampaikan materi dengan lebih jelas dan mudah dipahami, hingga mengembangkan kebiasaan refleksi dan perbaikan berkelanjutan melalui umpan balik rutin dari tutor. Dalam 120 jam tersebut, apa saja yang dipelajari? Secara garis besar, silabus CELTA membekali peserta dengan fondasi pengajaran bahasa Inggris yang relevan untuk konteks kelas nyata. Materinya mencakup pemahaman tentang peserta didik, peran pengajar, proses pembelajaran. Juga termasuk konteks pembelajaran, analisis bahasa dan kesadaran berbahasa, pengembangan empat keterampilan utama (membaca, mendengar, berbicara, dan menulis), perencanaan pembelajaran serta pemanfaatan sumber daya untuk berbagai konteks mengajar, hingga pengembangan keterampilan mengajar dan profesionalisme secara berkelanjutan. Untuk format intensif, Cambridge juga menekankan beban belajar yang realistis. Selain jam kursus, peserta umumnya perlu menyiapkan waktu tambahan untuk persiapan dan belajar mandiri ( self-study ) , sehingga pengalaman belajarnya benar-benar mengubah cara mengajar, bukan sekadar selesai kelas. Kenapa CELTA Bernilai Tinggi di Pasar Kerja Global Yang membuat CELTA semakin relevan adalah fakta bahwa banyak pemberi kerja menggunakannya sebagai patokan kualitas minimum pengajar. Dalam rilis resmi Cambridge English tanggal 20 Januari 2026, Cambridge melaporkan hasil studi terhadap 200 iklan lowongan pengajaran bahasa Inggris ( English Language Teaching/ELT ) di 41 negara (periode posting Januari–September 2025). Hasilnya: CELTA diminta pada 63,5% iklan secara global. Hal ini menegaskan bahwa CELTA merupakan salah satu kualifikasi yang paling sering dicantumkan dan menjadi rujukan kuat di pasar kerja internasional. Cambridge juga menyoroti bahwa meningkatnya kebutuhan pelatihan guru ELT dipengaruhi oleh permintaan yang besar dan kebutuhan solusi yang lebih fleksibel (termasuk pembelajaran digital). Intinya, CELTA bukan tren, tetapi respon terhadap kebutuhan nyata di industri, kualitas pengajar yang siap mengajar, lintas konteks dan lintas negara. UTC: Membawa Standar CELTA ke Indonesia Di Indonesia, program CELTA diselenggarakan oleh UniSadhuGuna Testing Centre (UTC) , centre resmi Cambridge English yang berlisensi untuk menyelenggarakan CELTA. UTC yang merupakan bagian dari ekosistem USG Education telah berpengalaman menyelenggarakan CELTA baik secara luring (tatap muka) maupun daring ( online), sehingga aksesnya lebih luas untuk calon pengajar dari berbagai kota. Sejak berdiri pada tahun 2005, UTC berkomitmen mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui layanan ujian dan sertifikasi berstandar tinggi, mendampingi siswa, tenaga pendidik, dan profesional meraih kredensial global. Adhirama G. Tusin, CEO USG Education, menyampaikan, “Kami melihat CELTA bukan sekadar sertifikasi, tetapi fondasi profesional bagi para pengajar bahasa Inggris untuk membangun kompetensi, standar pengajaran, dan daya saing internasional. Inisiatif ini sejalan dengan komitmen kami dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui jalur pendidikan dan sertifikasi global,” ujarnya. Menurut Deddy Mulyadi , Manager UTC, program ini menekankan praktik langsung dan refleksi berkelanjutan. “CELTA tidak hanya membahas teori mengajar, tetapi melatih peserta menghadapi situasi kelas yang nyata. Peserta mendapatkan umpan balik yang terstruktur, praktik mengajar langsung dengan peserta didik, serta pendampingan tutor berpengalaman. Karena itu, lulusannya umumnya lebih siap, percaya diri, dan adaptif saat mengajar di berbagai konteks pembelajaran,” tuturnya. Deddy menambahkan, “Pada akhirnya, CELTA membantu pengajar naik level, bukan hanya pada teknik, tetapi pada cara berpikir profesional di kelas.” Nilai Tambah CELTA bagi Kompetensi dan Karier Pengajar Bagi banyak pengajar, nilai CELTA tidak berhenti pada sertifikat. Program ini memberi pelatihan yang sistematis, intensif, dan mendalam, sekaligus membangun keterampilan baru yang meningkatkan kepercayaan diri saat mengajar. Karena pengakuannya bersifat internasional, CELTA juga membuka peluang karier yang lebih luas, termasuk kesempatan mengajar di berbagai negara dan memperkuat jenjang karier secara signifikan. Nilai CELTA paling terasa ketika peserta kembali ke kelas, karena yang dibentuk adalah kebiasaan profesional: planning , eksekusi, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan. Pengalaman positif tersebut juga dirasakan oleh para alumni CELTA. Asri Nurul Qodri, peserta yang melanjutkan studi Linguistics di Arizona State University, Tempe, Amerika Serikat, mengungkapkan, “Saya memandang CELTA sebagai salah satu pelatihan inti yang sangat penting bagi mereka yang ingin memulai karier di bidang ESL/EFL. Teknik pengajaran dan pengetahuan yang saya dapatkan berkontribusi besar terhadap filosofi mengajar saya dan kemampuan saya dalam menghadapi berbagai situasi kelas.” Famiya, pengajar di Ruangguru, turut membagikan pengalamannya setelah mengikuti CELTA. “Saya benar-benar merasakan perkembangan pada keterampilan mengajar saya. Kini saya memahami cara membuat pelajaran lebih mudah dipahami oleh murid. Umpan balik yang diberikan saat pelatihan CELTA sangat tajam dan informatif, dan itu sangat membantu saya dalam memperbaiki teknik mengajar,” ujarnya. Testimoni seperti ini menegaskan bahwa CELTA memberi pengajar struktur dan standar, bukan hanya motivasi. Siapa yang Cocok Mengambil CELTA CELTA terbuka bagi mereka yang sudah mengajar maupun yang baru memulai, selama memenuhi kualifikasi. Secara umum, Cambridge menetapkan minimum usia 18 tahun ke atas , standar pendidikan setara persyaratan masuk perguruan tinggi, serta kemampuan bahasa Inggris di level high C1 atau lebih. UTC juga mensyaratkan kesiapan ini untuk memastikan peserta mampu mengikuti program yang intensif. Jadwal CELTA 2026 di UTC Pada tahun 2026, UTC menjadwalkan beberapa periode kelas, baik luring maupun daring. Kelas luring format intensif tersedia pada 10 April–8 Mei 2026 dan 19 Juni–17 Juli 2026 . Sementara itu, kelas daring format paruh waktu tersedia pada 1 Agustus–4 Oktober 2026 serta 10 Oktober–13 Desember 2026 . Cara Pendaftaran Calon peserta dapat mendaftar dengan mengisi formulir aplikasi dan mengirimkannya ke UTC. Formulir akan ditinjau oleh tutor CELTA. Kandidat yang lolos seleksi administrasi akan mengikuti tahap wawancara. Setelah dinyatakan lulus, peserta dapat melakukan pembayaran dan mulai mengikuti pelatihan sesuai jadwal kelas yang dipilih. Sebagai bagian dari ekosistem USG Education, UTC terus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan tenaga pendidik Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global. Melalui penyelenggaraan CELTA dan berbagai kualifikasi internasional lainnya, UTC berkomitmen menjadi mitra strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan dan profesionalisme pengajar Bahasa Inggris di Indonesia. Informasi lebih lanjut mengenai program CELTA dapat diperoleh dengan menghubungi UniSadhuGuna Testing Centre (UTC) melalui telepon (021) 227 698 24 / 25, WhatsApp 0813 8929 3535, atau email info@utc-usg.com .
- Dari Indonesia ke Dunia: USG Education Perkuat Ekosistem Jalur Studi Internasional bagi Pelajar Indonesia
Kelulusan mahasiswa UIC College BTEC dan UIC-UTS College menegaskan komitmen USG Education membangun transisi studi internasional yang terukur: akademik, karakter, dan kesiapan mental. It all starts here. Dari kelas di Indonesia menuju ritme kampus internasional, ada satu fase yang sering menentukan: transisi. Transisi dari sistem belajar yang familiar menuju lingkungan akademik yang menuntut kemandirian, kecepatan adaptasi serta standar berpikir kritis yang lebih tinggi. Melalui momen kelulusan hari ini, USG Education menegaskan komitmennya membangun jalur studi yang terukur, dengan standar akademik, karakter dan kesiapan mental yang holistik. Bertempat di Soehanna Hall, the Energy Building SCBD, UIC College, bagian dari ekosistem pendidikan USG Education, melepas 37 mahasiswa dari program UIC College BTEC dan UIC – UTS College. Bagi para lulusan, kelulusan ini bukan sekedar seremoni, melainkan penanda langkah, dari target yang dulu terasa jauh menuju tahap berikutnya yang kini semakin nyata. Studi Internasional Butuh Kompetensi Mumpuni Minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri terus menunjukkan tren positif. Studi internasional dinilai mampu membuka akses terhadap kualitas pendidikan global, memperluas wawasan lintas budaya, serta membekali siswa dengan kompetensi akademik dan non-akademik yang relevan. Namun, banyak perjalanan studi berhenti bukan hanya karena ‘kurang tepat’, melainkan karena kurang siap menghadapi sistem baru. Mahasiswa yang melanjutkan studi ke luar negeri kerap menghadapi perubahan besar: cara dosen mengajar, cara tugas dinilai, kecepatan ritme perkuliahan, budaya diskusi, sampai cara menyusun argumen dalam tulisan akademik. Tanpa pendampingan yang tepat, transisi ini bisa terasa mengagetkan dan mempengaruhi performa belajar. Di titik inilah, ekosistem pendidikan yang terintegrasi menjadi pembeda. Bukan hanya mempersiapkan siswa secara akademik, tapi juga membentuk kebiasaan belajar, daya tahan mental dan pola pikir global yang dibutuhkan untuk bertahan dan bertumbuh. Ekosistem Terintegrasi: Menghubungkan Persiapan, Transisi hingga Outcome. Di era hari ini, standar akademik saja tidak cukup. Karena itu, USG Education membekali para siswa dengan keterampilan masa depan, mulai dari i nnovation and creativity mindset, problem solving, digital savvy, communication and networking skills, cultural diversity skills, dan entrepreneurial mindset. USG Education memiliki posisi sebagai ekosistem pendidikan terintegrasi. Bukan sekedar penyedia program, melainkan semua sistem yang menghubungkan tahapan – tahapan krusial perjalanan siswa, dari persiapan hingga outcome. CEO USG Education, Adhirama G. Tusin, mengungkapkan, “Di USG Education, kami membangun sebuah ekosistem pendidikan yang saling terhubung. Mulai dari persiapan akademik, pengembangan kompetensi, hingga jalur menuju universitas dan karier internasional.” USG Education juga telah memperkuat ekosistemnya melalui USG Education Incubation Program Sebagai support system untuk memberdayakan siswa, alumni dan komunitas, agar perjalanan studi mereka tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga bertumbuh dalam karakter, pengalaman, dan kontribusi nyata, melalui: ● Pelatihan praktikal & project-based learning (berpikir kritis, komunikasi, problem solving, dan cara kerja di industri). ● Program magang & experiential projects (portofolio, leadership , jam terbang didukung pendampingan langsung dari para pelaku industri sebagai mentor dan industry partners ) ● Business Club & innovation community (jejaring lintas program, melatih kepemimpinan, eksekusi ide, dan inisiatif) ● Start Up & Community Empowerment (kolaborasi dengan pelaku industri/UMKM untuk dampak nyata) UIC College BTEC & UIC - UTS College: Jalur Terukur Menuju Universitas Internasional. Dua program yang menjadi sorotan kelulusan kali ini adalah UIC College BTEC dan UIC – UTS College. Jalur unggulan yang dirancang untuk memastikan transisi mahasiswa Indonesia ke sistem pendidikan ke luar negeri berjalan lebih mulus. UIC College BTEC menerapkan kurikulum Pearson-Edexcel (Inggris) dengan pendekatan real world learning & industry based curriculum. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dibiasakan memahami konteks industri. Belajar dari praktisi dan mengerjakan tugas yang relevan dengan industri. Sementara itu, UIC - UTS College merupakan jalur langsung menuju University of Technology Sydney (UTS) , salah satu universitas terkemuka di Australia. Kurikulum pathway dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa melanjutkan studi ke tahun kedua hingga meraih gelar sarjana S1 di UTS, Australia, secara mulus. Kedua program ini menekankan penguatan kemampuan akademik, keterampilan berpikir kritis, serta kesiapan mahasiswa dalam menghadapi sistem pembelajaran universitas internasional. Di titik ini, kelulusan menjadi semacam panggung pembuktian. Ketika siswa mendapatkan jalur yang tepat dan pendampingan yang konsisten, mimpi menuju universitas terkemuka bukan lagi wacana. Kelulusan sebagai Bukti. Bukan Hanya Akademik, tapi Holistik. Adhirama menegaskan bahwa momen kelulusan ini menjadi bukti bahwa dengan dukungan ekosistem yang tepat dari USG Education, generasi muda Indonesia mampu melangkah percaya diri ke panggung dunia. “Momen kelulusan ini menjadi titik transisi penting bagi para lulusan, dari ruang kelas menuju tantangan dunia nyata dan pendidikan global. Di USG Education, kami tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada proses pendampingan yang membentuk karakter, ketangguhan, dan kesiapan mental siswa. Kami percaya bahwa lulusan yang siap secara holistik akan lebih mampu beradaptasi dan bertumbuh di lingkungan global yang dinamis,” ujar Adhirama. Komitmen yang sama ditegaskan oleh CEO UTS College, Morwenna Shahani, yang menyampaikan kebanggaannya atas lulusan yang telah dipersiapkan dengan pola pikiran global. Bukan semata nilai akademik. “Kami bangga melihat para lulusan hari ini beserta pencapaian yang telah mereka raih. Melalui kerja keras yang konsisten, didukung oleh dedikasi penuh para staf UIC–UTS College, para siswa telah dipersiapkan secara matang untuk menghadapi masa depan global—tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan pola pikir. Kami meyakini bekal ini akan mengantarkan mereka meraih kesuksesan dalam melanjutkan studi di UTS, Australia, sekaligus membuka berbagai peluang di masa depan,” ujar Morwenna. Kelulusan Januari ini merupakan momen kelulusan pertama USG Education di tahun 2026 , yang akan diikuti oleh kelulusan berikutnya secara berkala sepanjang tahun, selaras dengan periodik intake program internasional. Ariyani Marwadi , COO USG Education, menambahkan “Kelulusan Januari ini menjadi pembuka rangkaian kelulusan USG Education sepanjang 2026, yang akan berlangsung secara periodik mengikuti intake program internasional. Setiap kelulusan adalah penanda progres. Bukan hanya capaian akademik, tetapi kesiapan siswa untuk melangkah ke tahap berikutnya dalam jalur studi internasional mereka,” ujar Ariyani. Para lulusan berasal dari berbagai jurusan, mencerminkan keberagaman jalur pendidikan yang ditawarkan, seperti Business, Sound Design, Engineering , dan Information Technology (IT) . Alumni, Prestasi dan Percaya Diri yang Terbentuk. Salah satu cara paling kuat membaca kesiapan internasional adalah melalui cerita yang bisa diverifikasi. Alumni yang telah melanjutkan, telah beradaptasi, dan berkontribusi di industri dengan standar tinggi. Dalam kelulusan ini, Ivan Chaniago Putra, alumni program UIC-UTS College, Engineering (2017) dan lulusan UTS, Australia, Bachelor of Engineering in Mechanical Engineering (2019) membagikan pengalamannya. Saat ini Ivan bekerja sebagai Account Manager at Huawei Tech Investment Indonesia. “Program UIC-UTS College merupakan program yang istimewa bagi siswa Indonesia. Sebagai alumni UIC–UTS College, saya merasakan betul bagaimana program ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan akademik dan profesional saya. Program ini membantu saya beradaptasi dengan kehidupan universitas dan memberi gambaran nyata tentang seperti apa kuliah di UTS—mulai dari perbedaan budaya, belajar mandiri, hingga gaya belajar yang lebih praktis dan dekat dengan dunia nyata,” ujar Ivan. Kisah lain datang dari Clarice Aurelia Jo, lulusan UIC-UTS College jurusan Business yang meraih predikat Best Student dengan capaian GPA 6,8 dari 7. Sebuah pencapaian yang menggambarkan kesiapan akademik dan konsistensi yang matang. “Menjadi bagian dari UIC-UTS College adalah pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Proses pembelajaran di sini tidak hanya menantang secara akademik, tetapi juga mengasah kepercayaan diri, kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab yang membentuk kami sebagai individu. Penghargaan yang saya raih pada kelulusan ini bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi tentang bertumbuh bersama, saling menguatkan, dan berani melangkah ke masa depan,” ujar Clarice. Predikat Best Student juga berhasil diraih oleh Kenzo Hausen (UIC - UTS College jurusan Engineering) dan Sebastian Donato Arifin (UIC - UTS College jurusan Information Technology). Dibalik angka GPA dan predikat, yang paling penting adalah satu perubahan yang sering luput terlihat. Kepercayaan diri yang lahir dari proses. Ketika siswa tahu bagaimana belajar, tahu bagaimana berpikir dan tahu bagaimana merespon tantangan. LEARN Framework dan Noble Scholar Standard Di USG Education, kesiapan global ini dibentuk oleh nilai, yang terlihat dalam kebiasaan, cara belajar, cara menghadapi tekanan dan cara membawa diri dalam lingkungan baru. Nilai tersebut dirangkum dalam LEARN Framework (Leadership, Empathy, Agility & Access, Reliability & Nurture) serta standar Noble Scholar yang menjadi fondasi pendampingan siswa. Selama lebih dari 30 tahun, USG Education telah menghadirkan program akademik berstandar internasional yang melengkapi. Di dalamnya ada enam unit bisnis yang terintegrasi: ● The British Institute (TBI) (berdiri 1984) mendampingi siswa dari anak – anak hingga profesional untuk membangun kepercayaan diri dan kefasihan berbahasa Inggris, dengan pendekatan pembelajaran yang aplikatif dan relevan. ● UniSadhuGuna Testing Centre (UTC) (berdiri 2005) satu – satunya penyelenggara ICAS School Competition di Indonesia. UTC juga dipercaya sebagai salah satu penyelenggara berbagai ujian internasional yang diakui dunia, termasuk Cambridge English Qualifications, Linguaskill terbaru, IELTS TM dan TOEFL ITP Ⓡ . UTC juga menyediakan kualifikasi pengajaran bahasa Inggris berstandar internasional, seperti Cambridge CELTA, Cambridge DELTA, dan Cambridge TKT, yang menunjukkan kompetensi dan pencapaian seorang pengajar. ● Uniprep Junior College (UJC) (sejak 2013) merupakan program setara Sekolah Menengah Atas dengan kualifikasi Internasional GCSE Pearson Edexcel dan BTEC Level 2 sebagai jalur menuju Uniprep atau UIC College. ● Uniprep (sejak 1994) menghadirkan Foundation Studies yang berasal dari UNSW College selama 9 bulan menuju studi sarjana di UNSW (the University of New South Wales) maupun universitas terkemuka lainnya. ● USG International College (UIC College) (sejak 2006) menghadirkan program Pearson BTEC HND & HNC (Inggris), jalur UIC - UTS College (Australia), serta American Degree Transfer Program (ADTP). Melalui program University Pathway dan Fast Track siswa dapat menghemat biaya pendidikan kuliah di luar negeri hingga 70%. ● Unistart (sejak 1994) layanan konsultasi studi luar negeri, termasuk informasi universitas, termasuk pengurusan visa, persiapan pre-departure dan lain-lain. Hingga kini Unistart telah membantu ribuan siswa melanjutkan studi ke universitas terkemuka di berbagai negara. Secara keseluruhan, hingga saat ini USG Education telah meluluskan lebih dari 5000 siswa / i yang kini tersebar di dalam dan luar negeri serta berperan aktif di berbagai sektor industri. Bagi USG Education masa depan tidak ditunggu. Masa depan disiapkan dengan nilai nyata, sistem teruji dan ekosistem yang saling terhubung. It all starts here.
- Ketika Warisan Lampung Menjadi “Living Treasure”, UIC Creative Showcase 2026 Menjembatani Budaya, Talenta Muda, dan UMKM
Di satu sisi ruangan, karya busana terinspirasi simbol Lampung tampil dalam peragaan. Di sisi lain, instalasi visual dan pameran desain membangun narasi tentang alam dan budaya Lampung melalui pendekatan kontemporer. Dari sudut yang berbeda, bunyi instrumen tradisional Lampung seperti serdam, talo balak, hingga gamolan pekhing diolah menjadi gagasan sound of healing , sementara tim teknologi memperkenalkan konsep platform digital untuk memperluas akses pasar produk kriya. Inilah wajah UIC Creative Showcase 2026 , program tahunan yang diselenggarakan UIC College (bagian dari ekosistem USG Education) melalui kolaborasi bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung , dengan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif . Mengusung payung pesan “Advancing Lampung’s Heritage and Its Living Treasure” , showcase ini menempatkan warisan budaya bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan warisan yang hidup , yang dapat diolah menjadi nilai tambah ekonomi melalui produk, desain, strategi, kampanye, hingga pengalaman kreatif. Showcase ini merupakan puncak rangkaian program yang diawali melalui Study Week ke Lampung (22–25 November 2025) . Dalam fase tersebut, para siswa melakukan riset lapangan untuk memahami akar budaya, konteks sosial, serta potensi kriya dan UMKM lokal melalui Dekranasda Provinsi Lampung. Hasil riset kemudian diterjemahkan menjadi karya lintas disiplin yang dipresentasikan kepada publik, mitra, dan pemangku kepentingan pada puncak acara ini. UIC College sendiri berfokus pada pengembangan talenta muda melalui pembelajaran berbasis industri dan kebutuhan sosial. Pendekatan ini bukan hanya mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1) di luar negeri, tetapi juga membekali mereka dengan soft skills yang relevan, mulai dari cara membaca konteks, menguji ide, hingga menyusun solusi yang aplikatif. Komitmen USG Education: Pendidikan yang Tidak Berhenti di Konsep CEO USG Education, Adhirama G. Tusin , menegaskan bahwa UIC Creative Showcase dirancang untuk mengintegrasikan pendidikan dengan penguatan budaya dan dampak sosial-ekonomi melalui model kolaborasi lintas pihak. Menurutnya, karya kreatif perlu dibangun melalui proses yang nyata, bukan sekadar tugas akademik, agar menghasilkan output yang relevan bagi masyarakat dan ekosistem daerah. “ UIC Creative Showcase dibangun di atas model kolaborasi yang saling menguatkan. Kolaborasi ini memastikan proses kreatif mahasiswa UIC College tidak berhenti di konsep, tetapi diwujudkan dalam solusi nyata untuk UMKM dan pelestarian budaya Lampung. Dari eksplorasi lapangan hingga showcase karya, pendidikan yang ‘hidup’ ini membekali mereka strategi bisnis, branding, dan kampanye yang aplikatif, sekaligus menciptakan dampak nyata dan keberlanjutan bagi talenta dan budaya lokal, ” ujar Adhirama. Ia menambahkan bahwa UIC College sebagai bagian dari USG Education menempatkan project-based learning sebagai metode utama, agar mahasiswa terbiasa membaca konteks, menguji ide, dan mempresentasikan solusi yang bisa dipakai. Heritage adalah Masa Depan yang Hidup Bagi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, cara memandang heritage akan menentukan daya saing ekonomi kreatif berbasis budaya. Neli Yana, Direktur Kriya pada Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif , menegaskan bahwa bahwa warisan budaya perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dan bermartabat, serta memiliki nilai tambah ekonomi. “Bagi kami, warisan budaya adalah modal strategis ekonomi kreatif yang harus terus dihidupkan, bukan hanya dilestarikan. Melalui kolaborasi seperti UIC Creative Showcase, kami mendorong agar kekayaan budaya daerah dapat diolah secara kreatif oleh generasi muda menjadi produk, gagasan, dan model bisnis yang relevan dengan pasar, tanpa kehilangan nilai dan identitas budayanya,” demikian disampaikan Neli Yana. Neli juga menekankan bahwa keberlanjutan karya kreatif membutuhkan “jalan lanjut”, bukan berhenti pada selebrasi. “ Kami mendorong agar karya-karya seperti ini punya market dan jalur yang jelas: melalui kualitas dan kurasi, penguatan desain dan storytelling, akses promosi dan pasar, serta peluang kolaborasi dengan UMKM dan pemerintah daerah. Di situlah karya anak muda benar-benar bertemu kebutuhan pasar dan bisa berkelanjutan, ” lanjutnya. Keterlibatan talenta muda sebagai jembatan antara tradisi dan cara komunikasi yang dekat dengan generasi hari ini merupakan satu hal penting. Karena ketika anak muda ikut terlibat, heritage tidak berhenti sebagai simbol. Ia menjadi inspirasi karya, inovasi, dan peluang yang menguatkan ekosistem kriya dan ekonomi kreatif Lampung secara berkelanjutan. Suara Daerah: Inspirasi UMKM Lampung Bagi Lampung, keterlibatan talenta muda menjadi jembatan penting antara tradisi dan cara komunikasi yang dekat dengan generasi hari ini, agar warisan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi inspirasi karya, inovasi, dan peluang ekonomi. Ibu Gubernur Provinsi Lampung sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Lampung, Hj. Purnama Wulan Sari Mirza , menilai kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemerintah pusat menjadi kunci agar kriya Lampung tidak hanya dikenal, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Kami ingin warisan budaya Lampung terus hidup dan memberi nilai tambah nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan UIC College dan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif membuka ruang bagi UMKM Lampung untuk naik kelas, mulai dari penguatan desain, narasi, hingga akses promosi dan pasar—dengan tetap menjaga nilai budaya sebagai identitas daerah,” ujar Purnama Wulan Sari Mirza. Dari Lapangan hingga Panggung: Pengalaman Belajar yang Membumi Yang membedakan UIC Creative Showcase dengan pameran kampus pada umumnya adalah prosesnya. Program ini diawali dengan fase riset lapangan yang membuat para siswa melihat budaya bukan sebagai “tema”, tetapi sebagai realitas yang memiliki aktor, ekosistem, serta tantangan. Dalam rangkaian tersebut, para siswa berinteraksi dengan pelaku UMKM, mengikuti workshop, dan melakukan eksplorasi konteks budaya serta pariwisata. Rangkaian kunjungan juga mencakup destinasi seperti Taman Nasional Way Kambas (Lampung Timur) dan kawasan pantai di Kabupaten Pesawaran, yang menjadi bagian dari pemahaman konteks daerah secara menyeluruh. Puncak rangkaian program digelar pada Selasa, 3 Februari 2026 di USG Education BSD Campus, Tangerang, Banten, sebagai panggung presentasi output karya dan gagasan mahasiswa lintas jurusan. Yang ditampilkan tidak hanya “bagus dilihat”, tetapi dituntut untuk menjawab pertanyaan yang lebih berat: karya ini menyelesaikan masalah apa, dan berdampak untuk siapa? Ariyani Mawardi, COO USG Education menekankan bahwa kekuatan program ini ada pada proses belajar di lapangan, bukan hanya produksi karya di kelas. “Para siswa memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari para pelaku UMKM di Provinsi Lampung melalui berbagai workshop yang diselenggarakan di Dekranasda Provinsi Lampung dalam rangkaian Study Week Lampung 2025. Program ini dirancang agar generasi muda mengenal lebih dekat kerajinan dan pariwisata Lampung, sekaligus memahami bagaimana nilai tradisional dapat tetap hidup dan relevan di era modern,” ujar Ariyani. UIC Creative Showcase menjadi ruang pembuktian bahwa karya generasi muda dapat membawa pesan strategis, bahwa warisan budaya perlu dijaga, sekaligus dikemas agar mudah dipahami generasi masa kini tanpa mengorbankan nilai aslinya. Highlight Karya Lintas Jurusan: Karya yang Punya Konteks dan Fungsi Sebagai puncak rangkaian program, UIC Creative Showcase 2026 menampilkan karya dan proyek lintas disiplin yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki konteks dan fungsi untuk penguatan UMKM serta promosi budaya Lampung, antara lain: Jurusan Business menampilkan strategi promosi dan penjualan kreatif, termasuk pengembangan konsep merchandise yang mengikuti tren pasar sebagai inspirasi bagi UMKM Lampung. Jurusan Fashion menghadirkan karya busana terinspirasi kain serta simbol khas Lampung melalui peragaan busana. Jurusan Computing mengembangkan platform e-commerce untuk galeri Dekranasda Provinsi Lampung guna memperluas jangkauan pasar secara digital. Jurusan Audio Music Production berkolaborasi dengan Computing untuk mengembangkan aplikasi streaming bekerja sama dengan Alun App, platform musik untuk healing atau music therapy yang terinspirasi alat musik tradisional Lampung seperti Serdam, Talo Balak, dan Gamolan Pekhing . Mahasiswa juga menghadirkan karya lagu terinspirasi puisi sastrawan Lampung, Udo Z. Karzi . Jurusan Design menyelenggarakan pameran seni (art exhibition) terinspirasi elemen visual, budaya, dan kekayaan alam Lampung melalui pendekatan desain kontemporer. Acara UIC Creative Showcase ini didukung oleh para juri yang berasal dari: Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif: Neli Yana, S.Sos, M.Si (Direktur Kriya), Benedictus Permadi, S.Ds., M.M. (Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Kriya), dan Yanuar Arief, S.E. (Ketua Pokja Arsitektur dan Desain Interior, Direktorat Arsitektur dan Desain) Dekranasda Provinsi Lampung: Ratih Puspa Sari (Wakil Sekretaris Dekranasda Provinsi Lampung), Dendy Mashuri, S.H., M.A., M.P.P. (Sekretaris Dekranasda Provinsi Lampung), Dra. Heni Astuti, M. IP (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung), dan Hayudian Utomo, S.Sos., M.M. (Kepala Bidang Pengawasan, Kerjasama dan Pembangunan Sumberdaya Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung). Fashion designer: Rinda Salmun dan Yosafat Dwi Kurniawan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI): Andre Aditya Manggala dan Christa Linggar Pada akhirnya, yang ingin dibuktikan program ini sederhana: ketika pendidikan bertemu proyek nyata, talenta muda tidak hanya membangun portofolio, mereka ikut membangun ekosistem. Dan ketika heritage diperlakukan sebagai masa depan yang hidup, Indonesia tidak kehilangan identitas saat bergerak maju. It all starts here.
- ICAS 2025 MEDAL PRESENTATION CEREMONY 72 SISWA TERBAIK INDONESIA RAIH MEDALI EMAS ICAS 2025
UTC, satu-satunya penyelenggara resmi ICAS Competition di Indonesia, gelar Medal Presentation Ceremony di Perpustakaan Nasional RI Prestasi siswa Indonesia di panggung asesmen international kembali menguat. Sebanyak 72 siswa Indonesia dari jenjang SD hingga SMA meraih total 77 medali emas dalam kegiatan ICAS Competition 2025 , sebuah ajang kompetisi berkaliber internasional. Pencapaikan ini diapresiasi melalui ICAS 2025 Medal Presentation Ceremony (MPC) yang diselenggarakan oleh UniSadhuGuna Testing Center (UTC) , sebagai bagian dari USG Education, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sebagai satu – satunya perwakilan resmi (authorized organizer) ICAS Competition di Indonesia , UTC memastikan penyelenggaraan ICAS berlangsung sesuai standar internasional, mulai dari pendampingan registrasi sekolah, pelaksanaan asesmen, hingga pemanfaatan laporan diagnostik yang membantu sekolah memperkuat kualitas pembelajaran berbasis data dan kompetensi. Selain dihadiri oleh siswa dan sekolah terbaik dari seluruh Nusantara, serta para guru dan orang tua, kegiatan ini setiap tahunnya juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) yang secara langsung menyaksikan capaian para siswa dan sekolah peserta. Mendorong Ekosistem Pendidikan Berbasis Kompetensi CEO USG Education, Adhirama G. Tusin , menyampaikan bahwa ICAS tidak sekedar kompetisi, melainkan ruang pembelajaran yang melatihan kemampuan berpikir tingkat tinggi, kompetensi yang semakin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan. “Melalui ICAS, kami ingin mendorong lahirnya ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi pada pemetaan potensi dan penguatan kompetensi siswa. Keberhasilan sejumlah siswa meraih lebih dari satu medali menjadi bukti bahwa melalui pendekatan yang tepat, siswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional,” ujar Adhirama. Peningkatan Prestasi yang Membanggakan Manager UniSadhuGuna Testing Centre (UTC), Deddy Mulyadi menyampaikan bahwa tren peningkatan terlihat tidak hanya dari jumlah peserta, tetapi juga dari capaian prestasi di berbagai bidang studi. “Tahun ini terjadi peningkatan capaian medali emas, terutama pada bidang Mathematics dan Science. Ini menunjukkan semakin kuatnya kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) peserta. Kami ingin ICAS terus menjadi ruang latihan penalaran, pemecahan masalah, serta berpikir logis, kritis, dan kreatif,” jelas Deddy. Sementara itu, Director of Admissions, Recruitment Marketing USG Education, Niluh Komang Aimee Tirta Widiani Sukesna, BA, MBA, menekankan bahwa hasil ICAS tahun 2025 merupakan satu bukti nyata, bahwa siswa Indonesia mampu bersaing di kancah internasional. Ia juga menyoroti manfaat ICAS bagi sekolah melalui peta kemampuan yang jelas untuk mendukung pengembangan pembelajaran ke depan. “Kami berharap melalui ICAS, sekolah dan siswa dapat mengenali kekuatan serta area pengembangan pada setiap bidang studi. Hal Ini dapat menjadi dasar dalam menyusun metode pembelajaran yang lebih relevan, personal, dan selaras dengan standar internasional, sehingga siswa dapat terus bertumbuh dan berkembang,” ungkap Aimee. ICAS: Kompetisi Berkaliber Internasional ICAS merupakan tes pengukuran kemampuan dasar berbasis HOTS (High Order Thinking Skills) untuk para siswa kelas 3 SD hingga 3 SMA (Year 3-Year 11) dengan elemen kompetisi bertaraf internasional. Bidang yang diukur meliputi English, Mathematics, Science, Digital Technologies, Spelling Bee dan Writing. Selain sertifikat dan medali, ICAS menyediakan laporan individu dan laporan sekolah yang membantu sekolah memetakan capaian siswa secara terukur, sebagai masukan untuk strategi belajar-mengajar dan penguatan kualitas akademik. Secara global, ICAS dikenal sebagai salah satu kompetisi akademik internasional yang prestisius dan menjadi rujukan benchmarking bagi banyak sekolah unggulan. Sejak 1981, ICAS telah diikuti lebih dari 10 juta siswa dari 16.000 sekolah di 41 negara. Pada tahun 2025, tercatat 126 sekolah dari jenjang SD hingga SMA di berbagai wilayah Indonesia berpartisipasi dengan total 12.030 siswa. Selama lebih dari 15 tahun, UTC secara konsisten menyelenggarakan ICAS di Indonesia. Sejak 2022, pelaksanaannya diperkuat melalui sistem pelaksanaan berbasis teknologi oleh Janison (perusahaan penyedia teknologi pendidikan dan pengujian yang berbasis di Australia), serta dukungan dari University of Sydney. Aufan Ahmad Mumtaza (SMA Al Irsyad Satya Islamic School) merupakan salah satu peraih dua medali emas sekaligus di mata pelajaran Matematika dan Sains pada ICAS 2025. “Mengikuti ICAS selama enam tahun menjadi pengalaman berharga yang mendorong saya untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga memotivasi saya untuk berpikir kritis dan berkembang. Saya berharap ICAS terus menghadirkan tantangan baru yang bermanfaat, memberikan kesempatan bagi lebih banyak siswa berprestasi di tingkat internasional,” ujar Aufan. Sementara itu, Keira Waluyo Lin (Bina Bangsa School) meraih medali emas ICAS pertamanya di bidang English. “Saya terkejut sekaligus bangga dapat meraih medali emas ICAS pertama saya tahun ini. Bagi saya, persiapan sangat penting. Pengalaman mengikuti ICAS serta latihan SAT membantu saya memahami struktur ujian dengan baik. ICAS sangat berarti bagi rencana saya melanjutkan studi ke Australia, karena mampu memperkuat profil akademik saya,” ujar Keira. Kategori Best High-Achieving School in Outstanding Participation tahun ini diraih oleh BINUS School Bekasi. Koordinator ICAS dari BINUS School Bekasi, Sherry Astari menyampaikan apresiasi atas dedikasi siswa dan dukungan sekolah. “Kami telah berpartisipasi dalam ICAS selama beberapa tahun, dan tahun ini kami merasa terhormat menerima penghargaan sebagai High Achieving School in Outstanding Participation. Prestasi siswa mencerminkan dedikasi dan usaha yang konsisten. ICAS memberi manfaat bermakna bagi siswa dan sekolah, khususnya melalui pemetaan capaian akademik dan pengakuan bertaraf internasional. Sekolah juga mendukung melalui latihan rutin dan pendampingan akademik. Kami menantikan keikutsertaan dalam ICAS tahun mendatang,” ujar Sherry. Menuju ICAS 2026 ICAS kembali akan dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus – 25 September 2026. Para siswa yang ingin mengikuti kompetisi dapat mendaftar melalui sekolah masing-masing. Bagi sekolah yang ingin bergabung untuk pertama kalinya, UTC siap mendampingi proses registrasi dan persiapan pelaksanaan ICAS.
- 2025 Noble Scholar Competition One Day for the Future: Mewujudkan Generasi Inovator Indonesia Lewat Kolaborasi Pendidikan, Teknologi, dan Industri Kreatif
Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, tanggung jawab kita menjadi semakin jelas: membekali para siswa agar siap menghadapi masa depan — menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, percaya diri, serta memiliki pola pikir kewirausahaan. Menjawab tantangan ini, USG Education, institusi pendidikan internasional terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, resmi menyelenggarakan 2025 Noble Scholar Competition & One Day for the Future — sebuah ajang kompetisi nasional bagi pelajar SMA yang mendorong kreativitas, pemecahan masalah, inovasi teknologi, dan kolaborasi lintas disiplin. Noble Scholar Competition merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan di berbagai kampus USG Education. Tahun ini, memasuki penyelenggaraan ke-11, diikuti oleh siswa-siswi berbakat dari 5 sekolah. Salah satu rangkaian acaranya digelar p ada Kamis, 20 November 2025 di USG Education Pantai Indah Kapuk Campus, yang berlokasi di Galeri Niaga Mediterania II, Blok J8 Q - T, Jl. Pantai Indah Utara, Jakarta Utara. Kompetisi bergengsi yang diikuti oleh pelajar SMA dari berbagai sekolah di Indonesia, menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat mereka di bidang akademik dan kreatifitas. Kompetisi ini menampilkan dua kategori utama, yaitu Business dan Computing & IT. Menggabungkan Kompetisi dan Inspirasi dalam Satu Ruang Pembelajaran COO USG Education, Ariyani Mawardi, menyampaikan bahwa acara tahun ini membawa pendekatan baru yang lebih holistik. “Noble Scholar bukan hanya tentang kompetisi. Dengan tema ‘Shaping Innovators, Transforming Ideas’ , kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya menekankan akademik, tetapi juga membuka ruang bagi kreativitas, kolaborasi, dan keberanian mengeksplorasi hal-hal baru. Kombinasi antara kompetisi dan rangkaian sesi inspiratif One Day for the Future memberikan pengalaman belajar yang menyeluruh bagi para peserta,” ujar Ariyani. Untuk pertama kalinya, Noble Scholar Competition digabungkan dengan One Day for the Future, sebuah program inspiratif yang sebelumnya sukses diselenggarakan di USG Education Kelapa Gading Campus. Kolaborasi ini menjadi “golden ticket” bagi pelajar untuk mengekspresikan ide, menstimulasi kreativitas, mengasah kemampuan inovasi, dan membangun entrepreneurial mindset. Menghadirkan Sesi Inspiratif dari Tokoh Nasional dan Industri Kreatif Selain kompetisi, peserta, guru, dan orang tua juga mengikuti berbagai seminar dan workshop yang menekankan kebutuhan masa depan dari para narasumber inspiratif, di antaranya: ● Yuke Sri Rahayu, S.Sos, M.A., Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kemenekraf/Bekraf. ● Raising Emotionally Intelligent and Future-Ready Children bersama Maya Hasan, harpist dan music practitioner, dan Dr. Dadam Mahdar, S.Sos, M.Hum, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif. ● Building Digital Business Ecosystems: What Startups Like Ekosis Teach Us bersama Catherine Nathania Bunjamin, CMO Ekosis. ● Future Tech in Action: Exploring AI and Robotics for Tomorrow’s Innovators bersama Muhammad Farhan Gunawan, Lead Developer Zarfix.AI, yang menampilkan demo Robo-Dog, AI Vision, Voice Command, dan teknologi gerak real-time. Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti IELTS Prediction Test dari The British Institute (TBI) , yang membantu mengukur kemampuan bahasa Inggris sebagai persiapan studi global. “Kolaborasi dengan USG Education menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem kreatif Indonesia. Kami percaya bahwa inovasi lahir dari keberanian mencoba, berkolaborasi, dan menggabungkan ilmu dengan imajinasi. Inilah yang kami lihat dari para peserta hari ini,” ujar Yuke Sri Rahayu S.Sos, M.A., Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kemenekraf/Bekraf. Pada sesi berbagi inspirasinya, Catherine Nathania Bunjamin, CMO Ekosis, menjelaskan bagaimana teknologi dapat membentuk ekosistem bisnis yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Generasi muda bukan hanya pengguna teknologi — mereka adalah calon pembangun ekosistem digital. Melalui acara ini, kami melihat potensi besar mereka dalam menciptakan solusi yang nyata dan berdampak bagi masyarakat,” tambahnya. Future Tech in Action Workshop: Menyelami Masa Depan Teknologi Bersama ZARFIX Salah satu sesi yang paling menarik perhatian dalam rangkaian One Day for the Future adalah Future Tech in Action Workshop, yang dipandu oleh tim ahli dari ZARFIX, perusahaan teknologi inovatif yang berfokus pada pengembangan kecerdasan buatan dan solusi robotik di Indonesia. Dipimpin oleh Muhammad Farhan Gunawan, Lead Developer ZARFIX, workshop ini memberikan pengalaman langsung kepada siswa tentang bagaimana teknologi berkembang dan bagaimana AI serta robotika sudah mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari—mulai dari sistem keamanan, industri manufaktur, edukasi, hingga dunia kreatif. “Di ZARFIX, kami memposisikan AI sebagai thinking partner, mitra berpikir yang membantu siswa mengembangkan ide, merancang solusi digital, hingga membuat prototipe secara lebih cepat dan terstruktur,” ujar Farhan. Lewat demonstrasi Robodog yang dibekali AI Vision, Voice Command, dan real-time adaptive movement, peserta bisa melihat langsung bagaimana kolaborasi manusia dan AI bekerja: manusia mengarahkan makna dan tujuan, sementara teknologi membantu mengeksekusi secara presisi. Melalui mini competition Solve With AI, ZARFIX juga ingin menanamkan pola pikir problem-solver. Peserta tidak hanya diminta membuat ide, tetapi mengikuti alur lengkap: menemukan masalah nyata, menggali alternatif solusi menggunakan ZARFIX Chatbot, menyusun konsep aplikasi dalam format .md, hingga menghasilkan prototipe web/app melalui Replit. Dengan pendekatan ini, siswa belajar bahwa kemampuan berinovasi bukan ditentukan oleh latar belakang teknis, tetapi oleh rasa ingin tahu, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba. “Kolaborasi di acara 2025 Noble Scholar Competition & One Day for the Future menjadi momentum penting bagi ZARFIX dalam mendorong lahirnya talenta muda yang siap memimpin transformasi digital Indonesia,” ujar Naufal Arda Wiharandiya, Co-Founder Strategic Finance Advisor ZARFIX. Ia menekankan bahwa akses terhadap teknologi seperti AI seharusnya membuka ruang bagi kreativitas, inovasi, dan keberanian untuk menghadirkan solusi nyata. Naufal juga berharap program ini dapat terus diselenggarakan secara konsisten setiap tahun sehingga generasi muda tidak hanya melihat diri mereka sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pencipta masa depan. Kemitraan Internasional dan Program Unggulan USG Education Pantai Indah Kapuk Campus Salah satu program unggulan di USG Education Pantai Indah Kapuk Campus adalah UIC-UTS College, sebuah kolaborasi strategis antara UIC College dan UTS College, Australia, yang dirancang untuk membuka akses pendidikan global bagi para pelajar Indonesia. Melalui kemitraan ini, siswa dapat mengikuti jalur studi internasional yang terstruktur dan mulus, dimulai dari tahun pertama perkuliahan yang dilaksanakan di Jakarta. Selama masa studi awal ini, siswa mendapatkan pengalaman belajar dengan standar akademik Australia, kurikulum yang relevan dengan industri global, serta dukungan intensif dari pengajar berpengalaman yang telah tersertifikasi. Setelah menyelesaikan tahun pertama di Jakarta, para siswa akan melanjutkan studi ke tahun kedua perkuliahan di University of Technology Sydney (UTS), Australia —salah satu universitas top dunia yang dikenal unggul dalam bidang teknologi, bisnis, desain, komunikasi, dan ilmu pengetahuan. Kepala Kampus USG Education Pantai Indah Kapuk, Yuvin Maharuddin, menegaskan pentingnya pathway ini bagi generasi muda. “Kami percaya bahwa setiap siswa memiliki potensi besar untuk sukses di dunia global. Melalui UIC UTS College, kami memberikan jalur yang lebih aman, terstruktur, dan relevan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Program ini bukan hanya tentang memperoleh gelar internasional, tetapi juga tentang membangun karakter, kemandirian, dan kesiapan mereka untuk menjadi warga dunia. Model pembelajaran ini memberikan banyak keuntungan bagi pelajar Indonesia, antara lain: ● Transisi akademik yang lebih mulus ke perguruan tinggi luar negeri, khususnya UTS. ● Biaya kuliah tahun pertama yang lebih hemat karena dilakukan di Indonesia. ● Pendampingan akademik dan emosional yang lebih kuat sebelum beradaptasi dengan lingkungan internasional ● Kesiapan global yang lebih matang, baik dari sisi kompetensi, komunikasi, maupun kemandirian Siswa juga mendapatkan akses ke berbagai fasilitas pembelajaran modern, bimbingan persiapan studi lanjut, serta koneksi dengan komunitas internasional sejak awal perjalanan pendidikan mereka. Dengan keunggulan ini, UIC-UTS College menjadi salah satu pathway internasional paling komprehensif di Indonesia—sebuah program yang tidak hanya membuka pintu menuju gelar sarjana di luar negeri, tetapi juga membentuk generasi muda yang siap berkontribusi di dunia global yang terus berkembang. UIC-UTS College hadir sebagai solusi modern bagi pelajar Indonesia yang ingin meraih pendidikan berkelas dunia sambil tetap membangun kesiapan akademik, komunikasi, dan kepercayaan diri sebelum melangkah ke Australia. Kemitraan USG Education yang terus berkembang dengan banyak universitas terkenal di pusat pendidikan terkemuka seperti Australia, Inggris & Eropa, Amerika Serikat, Kanada dan banyak negara di Asia seperti Singapura, Malaysia, Cina, dan Jepang merupakan bukti standar praktik dan profesionalisme dari USG Education. Saat ini, USG Education adalah institusi pendidikan yang mapan dan kredibel dengan jaringan yang kuat di lebih dari 100 universitas di seluruh dunia. Dengan enam kampus strategis di BSD, Pantai Indah Kapuk, Kelapa Gading, Pondok Indah, Bandung, dan Malang, USG Education terus memperluas akses bagi pelajar yang ingin mengembangkan potensi akademik dan profesional mereka.
- Bahasa Inggris Menjadi Kunci Produktivitas SDM Indonesia TBI × UTC Sediakan Jalur Terpadu untuk Individu, Sekolah, Kampus, dan Korporasi
Persaingan kerja semakin ketat dan proses bisnis kian digital. Dalam konteks ini, bahasa Inggris bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kemampuan dasar untuk belajar, bekerja, dan berkolaborasi lintas negara. OECD mencatat, dari jutaan iklan lowongan di Eropa, sekitar seperlima secara jelas mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris—khususnya pada fungsi administrasi, penjualan, dan layanan. Pesannya tegas: bahasa Inggris adalah kompetensi lintas industri. Sejalan dengan dorongan global tersebut, otoritas pendidikan nasional juga menekankan penguatan literasi bahasa sejak dini. Mendikdasmen Abdul Mu’ti baru-baru ini menegaskan bahwa guru kelas perlu menguasai bahasa Inggris agar keberanian dan rasa percaya diri siswa dapat ditumbuhkan sejak SD. Di sisi pendidikan tinggi, English as a Medium of Instruction (EMI) di kampus-kampus Indonesia terus berkembang. British Council menekankan peluang perbaikan mutu pembelajaran, dengan catatan kemampuan bahasa Inggris dosen dan mahasiswa harus ikut diperkuat agar manfaat EMI benar-benar terasa di dunia kerja. Menjawab kebutuhan tersebut, USG Education melalui TBI (The British Institute) dan UTC (UniSadhuGuna Testing Centre) menghadirkan jalur terpadu penguatan bahasa Inggris untuk individu, sekolah, kampus, dan korporasi di Indonesia. Dengan kombinasi pengajaran TBI dan pengujian UTC, organisasi dapat memetakan baseline (pra- tes), menjalankan program peningkatan di TBI, lalu memvalidasi kenaikan skor melalui post-test resmi di UTC, membuktikan ROI pelatihan dengan data, bukan asumsi. “Bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sinyal kemampuan berpikir, kepercayaan diri, dan potensi kepemimpinan. Kita harus memastikan talenta Indonesia tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterampilan bahasa,” ujar Gladys Nathania, Associate Manager Sales & Marketing di Michael Page, dalam TBI × UTC Client Gathering baru-baru ini. Menurutnya, kompetensi bahasa Inggris memengaruhi persepsi profesional, akses jejaring global, dan kesiapan memimpin di level regional. Pandangan serupa disampaikan Bagus Gede Karma Amandangi, Learning & Culture Specialist di AXA Mandiri. “Pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat pada 2030 akan banyak dipengaruhi teknologi, AI, dan digitalisasi. Bertahan bukan soal siapa paling pintar hari ini, melainkan siapa yang terus belajar, beradaptasi, dan mampu berkolaborasi efektif,” ujarnya, menguatkan pentingnya bahasa Inggris sebagai keterampilan kerja masa depan. Metode A2E (Assessment to Enhancement) Sebagai komitmen menyiapkan talenta Indonesia yang siap bersaing global, USG Education menerapkan A2E (Assessment to Enhancement) —kerangka yang sederhana, terukur, dan bisa dipertanggungjawabkan: 1. Assessment bersama UTC: Pemetaan kemampuan melalui tes (misalnya TOEFL ITP, TOEIC, atau IELTS sesuai kebutuhan). Hasilnya menjadi kompas: area mana yang sudah kuat, mana yang perlu dipacu. 2. Enhancement melalui TBI: Program peningkatan yang fokus pada keterampilan terpakai: rapat lintas budaya, negosiasi, presentasi eksekutif, penulisan email/laporan, hingga kebutuhan spesifik industri. 3. Recognition dan jalur lanjutan: bagi profesional yang ingin melangkah lebih jauh, USG Education menyediakan jalur pengembangan profesional seperti Level 7 Postgraduate Diploma dan MBA pathway untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan, berpikir strategis, dan kesiapan menuju global leadership. Ariyani Mawardi, COO USG Education, menegaskan, “TBI dan UTC bukan sekadar lembaga kursus dan pusat tes. Kami adalah mitra pengembangan karier jangka panjang. Dengan pendekatan A2E, setiap individu tidak hanya belajar, tetapi benar-benar berkembang dan siap bersaing di dunia nyata.” Arah strategis tersebut diterjemahkan ke hal yang paling penting di lapangan: dampak yang terasa di meja kerja. Mulai dari penetapan baseline, desain pelatihan yang relevan per fungsi, hingga sertifikasi yang diakui mitra dan regulator, semuanya dirangkai agar hasilnya jelas dan bisa diukur. “Kebutuhan industri itu jelas, kemampuan berbahasa Inggris yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan assessment yang objektif, pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan, dan sertifikasi yang diakui global. Bagi korporasi, ini berarti ROI pelatihan yang bisa dibuktikan, bagi individu, ini adalah tiket percaya diri untuk melangkah ke peran yang lebih besar—di Indonesia maupun regional,” kata Niluh Komang Aimee Sukesna, BA, MBA, Direktur Sales Marketing USG Education. Client Gathering & Networking 2025 Sejalan dengan semangat di atas, The British Institute (TBI) dan UniSadhuGuna Testing Centre (UTC) baru – baru ini menggelar Client Gathering Networking 2025 di The Luxton Hotel Bandung, Kamis, 23 Oktober 2025. Acara ini menjadi ajang silaturahmi dan berbagi wawasan bersama mitra institusi pendidikan, perusahaan, dan organisasi di Jakarta serta Jawa Barat, sekaligus membangun kolaborasi strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia di kancah global.
- TBI GO! Back to Campus, Level Up Your English!
Setelah menjalani masa liburan yang menyenangkan, saatnya bagi para mahasiswa untuk kembali bersiap-siap menyambut semester baru. Proses " back to campus " menjadi momen yang penting untuk mempersiapkan diri agar siap menghadapi tantangan akademis yang akan datang. Namun, persiapan tidak hanya sebatas menyusun jadwal kuliah dan mempersiapkan materi perkuliahan. Sebagai bagian penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi kebutuhan utama bagi para mahasiswa. Berikut beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kamu: 1. Baca Artikel & Jurnal Kuliah Berbahasa Inggris Dengan membaca materi akademis dalam bahasa Inggris, kamu bisa memperkaya kosakata sekaligus terbiasa dengan gaya penulisan yang sering dipakai di perkuliahan internasional. 2. Dengerin Podcast Inggris Sambil Commute Waktu perjalanan menuju kampus bisa kamu manfaatkan untuk mendengarkan podcast berbahasa Inggris. Cara ini efektif untuk melatih kemampuan listening dan menambah ekspresi sehari-hari. 3. Latihan Presentasi Bahasa Inggris Setiap Minggu Presentasi adalah bagian penting dari dunia kampus. Latihan rutin, baik di depan cermin atau bersama teman, akan membantu meningkatkan rasa percaya diri saat harus tampil di kelas. 4. Tempel Sticky Note Kosakata Baru di Meja Belajar Mempelajari kosakata tidak harus membosankan. Tulis kata atau frasa baru di sticky note , lalu tempelkan di tempat yang sering kamu lihat. Lama-lama, kata tersebut akan lebih mudah melekat di ingatanmu. 5. Ikut Kursus Bahasa Inggris Biar Lebih Percaya Diri Mengikuti kursus Bahasa Inggris memberi kamu bimbingan terstruktur, kesempatan latihan interaktif, dan persiapan lebih matang untuk kebutuhan akademis, termasuk TOEFL maupun IELTS. Tidak perlu bingung untuk memulai dari mana, TBI hadir dengan menawarkan pilihan kelas beragam sesuai dengan kebutuhan dan level kemampuan bahasa Inggris kamu. Selain itu, TBI punya keunggulan yang bikin proses belajar kamu lebih maksimal: Reputasi terpercaya sejak 1984 sebagai penyedia kursus bahasa Inggris terbaik di Indonesia. Semua teacher TBI berpengalaman dan bersertifikat internasional, termasuk CELTA. Pilihan lokasi kampus yang strategis, memudahkan kamu untuk belajar di dekat domisili. Materi dan metode pembelajaran yang selalu up-to-date sesuai standar internasional. Tertarik? Tunggu apa lagi, daftar sekarang dan dapatkan banyak benefit dari TBI untuk mendukung kebutuhan akademik kamu! Gabung kelas baru dengan promo TBI Back to Campus dan hadiah menarik lainnya. Promo berlaku di TBI Malang & Depok: 1 – 30 September 2025 dan TBI Bandung: 8 September – 8 Oktober 2025: https://usg.education/tbi-btc Ikuti tes penempatan bahasa Inggris gratis, konsultasi langsung dan rasakan pengalaman belajar bersama TBI, English with the Best. Info lebih lanjut : 0813 910 99901 / tbimarcomm.ho@tbi.co.id
- UIC College of Fashion Menyulam Budaya ke dalam Desain Masa Kini di IFW 2025
Di tengah gemerlap catwalk dan sorotan lampu Indonesia Fashion Week (IFW) 2025, hadir sebuah koleksi yang tak hanya memamerkan gaya, tetapi juga merayakan identitas. Melalui tema “ The Spirit of Keraton Jogjakarta, ” UIC College of Fashion menghadirkan karya-karya yang menyulam warisan budaya ke dalam desain masa kini, sebuah pernyataan visual dari generasi muda yang berpikir global, namun berpijak kuat pada akar lokal. Delapan desainer muda tampil membawakan karya yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga kaya makna. Melalui siluet yang berani, struktur eksperimental, dan eksplorasi tekstil yang mendalam, mereka menjadikan runway IFW 2025 sebagai ruang kontemplatif, tempat di mana tradisi bertemu imajinasi, dan gaya menjadi bahasa ekspresi diri. Para desainer muda tersebut adalah dua mahasiswa senior, Karen Paige dan Caithlyn Andreas Lim , serta enam mahasiswa junior: Eugenea De Sade Basia, Gabriella Ixchel Bain, Danica Abellafaiza Iswara, Annabelle Olivia, Cella Amanda Gaotama, dan Jeima Aleyya Haudy. Dari Jogja ke Runway: Ketika Warisan Jadi Wawasan Sebagai bagian dari USG Education, UIC College dikenal sebagai pelopor program jalur internasional dalam pendidikan fashion. Mahasiswa memulai studi di Indonesia dan memiliki opsi untuk melanjutkan ke luar negeri. Pendekatan ini memberikan mereka fondasi yang kuat—baik secara teknis maupun konseptual dalam menciptakan karya yang mampu menjangkau pasar global tanpa meninggalkan akar budaya. Tahun ini, dua mahasiswa senior Karen Paige dan Caithlyn Andreas Lim tampil sebagai wajah utama UIC College di IFW. Keduanya mengeksplorasi warisan Keraton Yogyakarta dengan narasi personal yang kuat dan kreatif. Waves of Pearls: Simfoni Pantai Selatan Karen Paige mempersembahkan koleksi Waves of Pearls , yang terinspirasi dari upacara adat Mitoni dan keindahan Pantai Selatan Yogyakarta. Palet warna pasir, putih transparan, dan krem lembut berpadu harmonis dalam busana yang memancarkan feminitas, ketenangan, dan kekuatan alam. “IFW 2025 adalah platform ideal untuk memperkenalkan brand saya. UIC College telah memberi saya fondasi kreatif sebelum melanjutkan tahun terakhir studi di UK,” ujar Karen. Mono – Legacy: Elegansi dalam Struktural Minimalis Koleksi Mono – Legacy karya Caithlyn Andreas Lim tampil dramatis dengan dominasi warna hitam dan permainan struktur korset yang mencuri perhatian. Karyanya merefleksikan kekuatan perempuan serta reinterpretasi nilai-nilai Keraton dalam konteks modern. “Fashion bagi saya adalah bentuk bercerita. IFW adalah panggung nyata bagi impian saya, dan UIC telah menjadi ruang tumbuh yang luar biasa,” ungkap Caithlyn. Generasi Baru, Suara Baru Tak hanya para senior, enam mahasiswa junior UIC College juga berhasil menembus panggung IFW—sebuah pencapaian yang jarang terjadi dalam dunia pendidikan. Mereka adalah Eugenea De Sade Basia, Gabriella Ixchel Bain, Danica Abellafaiza Iswara, Annabelle Olivia, Cella Amanda Gaotama, dan Jeima Aleyya Haudy, kehadiran mereka menunjukkan bahwa kreativitas tak mengenal batas usia maupun jenjang akademik. “Bagi kami yang masih di tahun awal, ini bukan sekadar ajang pameran. Ini validasi bahwa karya kami layak didengar,” ujar Eugenea, salah satu desainer junior yang terlibat. Mengintegrasikan Budaya, Bisnis, dan Estetika Kepala Kampus USG Education BSD, Aimee Sukesna , menekankan bahwa keberhasilan ini bukan hanya hasil kreativitas semata, tapi juga kurikulum yang menyatukan aspek budaya, keberlanjutan, dan strategi bisnis. “Kami membekali siswa agar tidak hanya menjadi desainer, tapi juga pemikir strategis yang peka terhadap isu-isu global dan nilai lokal.” Adhirama G. Tusin selaku CEO dari USG Education , menambahkan, “Pendidikan fashion tidak hanya berorientasi pada estetika. Harus ada kesadaran sosial, keberlanjutan, dan narasi pribadi. Kami berkomitmen mencetak talenta yang kreatif, reflektif, dan siap membawa budaya Indonesia ke panggung dunia.” Juru bicara IFW pun mengakui kontribusi UIC College tahun ini, “Keterlibatan mahasiswa UIC College memberi warna baru dan semangat segar di IFW 2025. Mereka membawa sentuhan budaya Indonesia yang sudah turun temurun dan sangat inspiratif dan penuh potensi.” Catwalk Hari Ini, Visi untuk Esok IFW 2025 menjadi lebih dari sekadar ajang peragaan busana bagi UIC College of Fashion. Ini adalah panggung untuk menyuarakan nilai, menyulam identitas, dan membentuk masa depan industri kreatif. Di balik tiap jahitan, ada mimpi. Di balik tiap karya, ada suara. Dan suara para siswa UIC College ini lantang, berkelas, dan siap menggema lebih jauh. Melalui IFW 2025, UIC College of Fashion sekali lagi menegaskan perannya sebagai inkubator talenta kreatif, melahirkan desainer muda yang berani menyulam masa depan dari akar budaya mereka sendiri.
- UIC Creative Showcase 2025: “The Spirit of Transformation” Angkat Sociocreative Sport Entrepreneurship di Peresmian Kampus Baru USG Education BSD
Di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks, pendidikan tak lagi bisa hanya berkutat pada nilai akademik. Dibutuhkan ruang belajar yang merangsang kreativitas, menjembatani teori dan praktik, serta membuka koneksi langsung dengan industri dan masyarakat. Inilah yang menjadi jiwa dari UIC Creative Sociopreneurship Showcase 2025 , ajang prestisius tahunan yang diselenggarakan oleh UIC College , salah satu program pathway unggulan dari USG Education , institusi pendidikan internasional terkemuka di Indonesia. Dengan mengusung tema “The Spirit of Transformation” , showcase tahun ini memadukan semangat sociocreative dan sport entrepreneurship, yang tercermin dari puluhan proyek kolaboratif mahasiswa lintas disiplin. Acara berlangsung selama dua hari berturut-turut, bertepatan dengan peresmian kampus baru USG Education BSD, dan melibatkan mitra ternama seperti PERSITA, Keraton Yogyakarta, Sebumi, BRI Ventures, hingga BADA. Showcase ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dan dimulai pada 3 Juni 2025 oleh kampus USG Education Kelapa Gading dan PIK, lalu ditutup pada 4 Juni 2025 di kampus baru BSD. Acara ini menjadi magnet bagi profesional industri, akademisi, dan media, karena memperlihatkan bagaimana mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga menghadirkan solusi nyata atas tantangan dunia. Dalam momen yang sama, USG Education juga meresmikan wajah baru dan lokasi kampus BSD . Di balik seremoni peresmian, berdiri gagah semangat mahasiswa UIC College yang memamerkan karya-karya kolaboratif lintas disiplin. Dari desain, bisnis, hingga teknologi, semuanya berangkat dari satu benang merah: bagaimana menciptakan solusi kreatif terhadap masalah nyata. PERSITA: Meningkatkan Keterampilan dan Dampak Sosial Sebagai klien utama dalam proyek ini, PERSITA, klub sepak bola profesional yang sudah lama berperan di industri olahraga nasional, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pengembangan brand, strategi pemasaran, serta inisiatif sosial yang mendukung keberlanjutan dan keterlibatan komunitas. Dengan fokus pada dunia olahraga, mahasiswa tak hanya belajar manajemen brand, tetapi juga bagaimana menciptakan solusi kreatif untuk tantangan dunia nyata dalam industri ini. Menggabungkan Budaya, Bisnis, dan Lingkungan dalam Showcase Selain PERSITA, UIC Creative Showcase tahun ini juga bekerjasama dengan beberapa klien seperti: 1. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Proyek-proyek eksplorasi kekayaan budaya Keraton, yang telah dimulai sejak term Oktober 2024, turut ditampilkan dan dikemas secara kontemporer oleh mahasiswa jurusan Desain dan Bisnis. 2. BADA Mahasiswa dari program Computing berkesempatan untuk bekerja dengan BADA, sebuah brand kreatif yang tengah berkembang, dalam merancang dan mengembangkan situs web inovatif. 3. Asiantrust Capital dan BRI Ventures Mahasiswa tingkat akhir dari program business juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan Asian Trust Capital dan BRI Ventures dalam sesi pendampingan dan pitching, memperluas wawasan mereka tentang dunia startup, investasi, dan venture capital. 4. Sebumi Di sisi desain, mahasiswa jurusan Graphic Design berkolaborasi dengan Sebumi, organisasi yang berfokus pada isu lingkungan hidup. Proyek ini bertujuan untuk menciptakan kampanye visual yang mengangkat keberlanjutan dan perubahan iklim, menjadikan desain sosial sebagai alat untuk membawa perubahan. Yang membedakan UIC Creative Showcase bukan hanya siapa yang terlibat, tapi bagaimana mahasiswa diposisikan sebagai rekan sejajar dalam proses kreatif dan strategis. Mereka bukan hanya peserta didik, tetapi problem solver yang aktif menciptakan perubahan. “Kami tidak hanya ingin mahasiswa lulus dengan nilai baik, tapi juga dengan sense of purpose, empati sosial, dan kesiapan mental untuk menghadapi tantangan dunia nyata,” ujar Adhirama G. Tusin, CEO USG Education . “Kami bangga bisa menjadi jembatan antara potensi muda dan kebutuhan industri. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar menyelesaikan tugas, tetapi juga belajar berpikir sebagai pemimpin, inovator, dan individu yang peduli terhadap isu sosial dan industri. Kolaborasi dengan PERSITA dan mitra lainnya menjadi katalis penting dalam proses ini,” lanjut Adhirama. Niluh Komang Aimee Tirta Widiani Sukesna, BA, MBA, Kepala Kampus USG Education BSD menambahkan, “Showcase ini menunjukkan bahwa mahasiswa kami mampu menyerap, beradaptasi, dan memberikan solusi terhadap tantangan nyata di masyarakat. Pendekatan pembelajaran berbasis proyek seperti ini sangat penting untuk mencetak lulusan yang siap terjun ke dunia global, namun tetap memiliki akar nilai sosial dan empati.” Apresiasi Industri: Sinergi Pendidikan dan Dunia Nyata yang Berdampak Kolaborasi ini tidak hanya meninggalkan kesan pada akademisi, tetapi juga pada mitra industri. Evelyn Cathy, Commercial Director Persita Tangerang Raya , menyebut bahwa UIC College menghadirkan standar baru dalam kemitraan edukatif. “Bekerja sama dengan mahasiswa yang punya ide segar, rasa ingin tahu tinggi, dan kemampuan eksekusi yang rapi, menjadi pengalaman yang membuka mata. Kolaborasi dengan mahasiswa untuk menciptakan solusi kreatif dalam dunia olahraga sangat penting bagi pengembangan brand dan keterlibatan komunitas kami. “Kami berharap kolaborasi semacam ini bisa menjadi contoh nyata bahwa kemitraan antara dunia pendidikan dan industri bisa menciptakan solusi yang saling memperkaya,” ujar Evelyn. USG Education Kampus BSD: Home of the Noble Scholars Showcase ini digelar sebagai bagian dari momen bersejarah: peresmian kampus baru USG Education BSD, yang berlokasi strategis di jantung Edutown, BSD City. Mengusung konsep Home of the Noble Scholars, kampus ini bukan hanya menghadirkan fasilitas berstandar internasional, tetapi juga filosofi pembelajaran yang mendorong nilai luhur, integritas, dan kepemimpinan berwawasan global. "Kampus baru ini bukan hanya sekadar fasilitas, melainkan representasi dari visi kami untuk menghadirkan ekosistem belajar yang menginspirasi, mendukung kreativitas, dan membentuk karakter. sebagai rumah bagi para cendekiawan masa depan , para Noble Scholars,” ujar Adhirama G. Tusin, CEO USG Education. Fasilitas ini juga didukung oleh program-program unggulan seperti UJC untuk I nternational High School Qualification Program, Uniprep untuk foundation program, UIC College sebagai pathway menuju berbagai universitas terkemuka dunia , dan didukung oleh Unistart sebagai education and placement consultant. “Lingkungan membentuk cara berpikir,” kata Niluh Komang Aimee Tirta Widiani Sukesna. “Kampus baru ini kami desain bukan hanya untuk mendukung pembelajaran, tapi juga untuk menginspirasi eksplorasi, kolaborasi, dan kreativitas yang melampaui ruang kelas.” Peresmian kampus ditandai dengan seremoni khusus dan tur kampus yang dihadiri oleh tokoh penting, termasuk anggota Yayasan Persaudaraan Bangbayang ‘66, jajaran manajemen, mitra bisnis, dan perwakilan media. Fasilitas Modern yang Mendukung Pendidikan Global Kampus USG Education BSD hadir dengan fasilitas lengkap yang mendukung pembelajaran berbasis proyek dan teknologi industri kreatif: ● Studio Musik dan Creative Space – Ruang Ekspresi dan Produksi Kreatif Dilengkapi soundproof room, instrumen musik akustik dan digital, serta perangkat rekaman modern, studio ini memungkinkan mahasiswa Audio Music Production berlatih, mencipta lagu, hingga memproduksi audio untuk film dan proyek kreatif—dengan bimbingan langsung dari praktisi musik berpengalaman. ● Studio Fashion – Wadah Para Perancang Masa Depan Studio Fashion adalah ruang eksplorasi bagi mahasiswa Fashion Design, lengkap dengan mesin jahit industri, dress form, dan peralatan desain terkini. Di sinilah koleksi busana dikembangkan dari sketsa hingga produksi akhir. Karya siswa UIC College of Fashion bahkan tampil di Indonesia Fashion Week, Mei 2025. ● Creative Studio – Ruang Berkarya bagi Desainer Grafis Masa Depan Creative Studio di USG Education BSD merupakan ruang inspiratif bagi mahasiswa Graphic Design untuk mengubah ide visual menjadi karya nyata. Dilengkapi komputer high-spec, software profesional, dan ruang kerja fleksibel untuk eksplorasi berbagai media visual. ● Computer Lab – Teknologi Terkini untuk Ide Inovatif Tanpa Batas Dirancang sebagai pusat produktivitas digital yang mendukung kebutuhan akademik dan kreatif mahasiswa lintas jurusan, terutama yang bergerak di bidang desain, bisnis digital, animasi, multimedia dan computing. ● Student Lounge – Tempat Berkumpul, Berkreasi, dan Berjejaring Student Lounge di kampus BSD adalah ruang santai sekaligus kolaboratif, dirancang untuk diskusi proyek, membangun koneksi, atau sekadar melepas penat. Dengan desain modern, WiFi cepat, dan area duduk fleksibel, lounge ini mendukung gaya belajar generasi muda yang dinamis dan kreatif. ● Ruang Kelas Modern – Teknologi dan Interaktivitas dalam Pembelajaran Setiap ruang kelas di USG Education BSD dilengkapi dengan teknologi pembelajaran interaktif sehingga menciptakan lingkungan belajar mengajar yang kondusif dan mendorong partisipasi aktif serta keterlibatan siswa secara penuh. ● Auditorium Bangbayang ‘66 – Tempat Inspirasi dan Presentasi Skala Besar Auditorium berkapasitas besar ini mendukung berbagai kegiatan akademik dan kreatif, seperti seminar, kuliah umum, dan presentasi proyek. Juga menjadi ruang strategis untuk menghadirkan pembicara tamu, alumni, dan pelaku industri. ● Open Library – Pusat Informasi dan Referensi Global Perpustakaan kampus BSD adalah sumber ilmu dan inspirasi yang tak terbatas. Perpustakaan ini menyediakan buku-buku referensi internasional dan jurnal akademik. Pendidikan yang Relevan, Terkoneksi, dan Berdampak USG Education melalui UIC College kembali menegaskan visinya: bahwa pendidikan terbaik adalah yang terkoneksi langsung dengan dunia nyata dan berdampak. Melalui pendekatan project-based learning, kolaborasi industri, dan semangat transformatif, showcase ini mencerminkan bagaimana USG Education menyiapkan generasi yang bukan hanya kompeten, tetapi juga peduli dan adaptif. Saat ini, USG Education merupakan institusi pendidikan internasional yang telah bermitra dengan lebih dari 100 universitas global dan memiliki lebih dari 5.000 alumni. Dengan enam kampus di BSD, Pondok Indah, Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Bandung, dan Malang , USG Education terus membangun ekosistem pendidikan berkualitas tinggi dan berstandar internasional untuk membentuk generasi masa depan Indonesia yang berprestasi dan siap menghadapi tantangan global.
- 7 Cara Daftar Kuliah di Luar Negeri
Kuliah di luar negeri adalah impian bagi banyak siswa yang ingin mendapatkan pengalaman pendidikan internasional dan memperluas wawasan mereka. Namun, mendaftar kuliah di luar negeri bisa menjadi proses yang rumit dan memerlukan persiapan yang matang. Untuk membantu Anda meraih impian kuliah di luar negeri, berikut adalah panduan lengkap dengan 7 cara mendaftar kuliah di luar negeri. Cara Daftar Kuliah di Luar Negeri 1. Pilih Negara Tujuan dan Universitas yang Tepat Langkah pertama yang penting adalah memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat Anda. Selain itu, tentukan universitas-universitas di luar negeri yang menawarkan program studi yang Anda inginkan. Teliti dengan seksama kurikulum, fasilitas, dan reputasi universitas tersebut sebelum membuat keputusan. Baca juga : Beasiswa Kuliah di Australia dan Peluang Karirnya 2. Persiapkan Dokumen-dokumen Penting Dokumen-dokumen seperti transkrip nilai, surat rekomendasi, dan hasil tes kemampuan bahasa Inggris (seperti TOEFL atau IELTS) adalah hal-hal yang harus Anda siapkan. Pastikan semua dokumen ini lengkap dan memiliki terjemahan resmi jika diperlukan. 3. Pahami Persyaratan Masuk Universitas Setiap universitas memiliki persyaratan masuk yang berbeda. Baca dengan seksama persyaratan tersebut dan pastikan Anda memenuhi semua kriteria yang dibutuhkan. Beberapa universitas juga mengharuskan calon mahasiswa untuk mengikuti tes masuk khusus atau wawancara. Baca juga : Deakin University: Ranking, Program Studi, Biaya Kuliah 4. Cari Beasiswa dan Bantuan Keuangan Kuliah di luar negeri bisa mahal, tetapi jangan biarkan biaya menjadi penghalang. Cari informasi tentang beasiswa dan bantuan keuangan yang ditawarkan oleh pemerintah, lembaga swasta, atau universitas itu sendiri. Ajukan beasiswa sesuai dengan kriteria dan prestasi yang Anda miliki. 5. Isi Formulir Aplikasi dengan Teliti Setelah memilih universitas, isi formulir aplikasi dengan teliti dan jujur. Pastikan Anda mengisi semua bagian dengan benar dan memberikan informasi yang diperlukan. Formulir aplikasi adalah kesempatan Anda untuk memperkenalkan diri kepada universitas, jadi buatlah kesan yang baik. Baca juga : Kuliah di Deakin University Australia dengan Pathway Program 6. Siapkan Diri untuk Wawancara (Jika Diperlukan) Beberapa universitas mengharuskan calon mahasiswa untuk mengikuti wawancara sebagai bagian dari proses seleksi. Persiapkan diri Anda dengan membaca tentang universitas tersebut, mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris, dan berlatih menjawab pertanyaan umum yang mungkin diajukan dalam wawancara. 7. Pantau Status Aplikasi Anda dan Siapkan Diri untuk Pindah Setelah mengirimkan aplikasi, pantau statusnya secara teratur. Jika Anda diterima, persiapkan diri untuk pindah ke negara baru. Urus visa pelajar, akomodasi, dan persyaratan lainnya dengan cermat agar Anda siap menghadapi pengalaman baru ini. Baca juga : Potensi Jurusan IT di Masa Depan Dengan mengikuti langkah-langkah di atas dengan teliti dan tekun, Anda memiliki peluang yang lebih baik untuk berhasil mendaftar kuliah di luar negeri. Selamat mencoba, dan semoga Anda berhasil meraih pendidikan internasional yang membanggakan!
- Ivan Gunawan Hadir Sebagai Guest Lecture Eksklusif di UIC College, Membagikan Rahasia Membangun Brand Fashion Ikonik
Ivan Gunawan Hadir Sebagai Guest Lecture Eksklusif di UIC College BSD, Membagikan Rahasia Membangun Brand Fashion Ikonik Dalam momen istimewa ini, UIC College BSD berkesempatan menghadirkan salah satu public figure ternama sekaligus desainer terkemuka Indonesia, Ivan Gunawan, sebagai guest lecture eksklusif dalam sesi bertema “The Essential to Building Iconic / Powerhouse Fashion Brands & Businesses.” Kehadiran Ivan Gunawan diundang secara khusus melalui Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) sebagai bentuk nyata kontribusi industri kreatif terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam mempersiapkan generasi muda yang siap bersaing di dunia profesional. Acara ini diikuti oleh para mahasiswa dari program Business, Fashion Design, dan Graphic Design, yang mendapatkan kesempatan langka untuk belajar langsung dan berdiskusi bersama sosok inspiratif yang telah menorehkan kesuksesan di industri fashion tanah air. Dalam pemaparannya, Ivan Gunawan menekankan pentingnya membangun identitas brand yang kuat serta memahami aspek bisnis secara menyeluruh. Ia juga menyoroti pentingnya mentalitas yang tangguh di tengah cepatnya perkembangan dunia saat ini. “Generasi Z hari ini sangat mudah mendapatkan informasi. Tapi yang perlu diperkuat adalah mentalitas — bagaimana mereka bisa konsisten, tahan uji, dan memiliki visi jangka panjang dalam membangun brand dan bisnis mereka sendiri,” ujar Ivan. Sesi inspiratif ini menjadi bukti nyata komitmen UIC College BSD dalam menghadirkan pengalaman belajar yang relevan, aplikatif, dan langsung dari pelaku industri. Tujuannya adalah membekali mahasiswa tidak hanya dengan teori, tetapi juga wawasan praktis, inspirasi, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia profesional di masa depan.












