Ketika Warisan Lampung Menjadi “Living Treasure”, UIC Creative Showcase 2026 Menjembatani Budaya, Talenta Muda, dan UMKM
- 21 hours ago
- 5 min read

Di satu sisi ruangan, karya busana terinspirasi simbol Lampung tampil dalam peragaan. Di sisi lain, instalasi visual dan pameran desain membangun narasi tentang alam dan budaya Lampung melalui pendekatan kontemporer. Dari sudut yang berbeda, bunyi instrumen tradisional Lampung seperti serdam, talo balak, hingga gamolan pekhing diolah menjadi gagasan sound of healing, sementara tim teknologi memperkenalkan konsep platform digital untuk memperluas akses pasar produk kriya.
Inilah wajah UIC Creative Showcase 2026, program tahunan yang diselenggarakan UIC College (bagian dari ekosistem USG Education) melalui kolaborasi bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung, dengan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif. Mengusung payung pesan “Advancing Lampung’s Heritage and Its Living Treasure”, showcase ini menempatkan warisan budaya bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan warisan yang hidup, yang dapat diolah menjadi nilai tambah ekonomi melalui produk, desain, strategi, kampanye, hingga pengalaman kreatif.
Showcase ini merupakan puncak rangkaian program yang diawali melalui Study Week ke Lampung (22–25 November 2025). Dalam fase tersebut, para siswa melakukan riset lapangan untuk memahami akar budaya, konteks sosial, serta potensi kriya dan UMKM lokal melalui Dekranasda Provinsi Lampung. Hasil riset kemudian diterjemahkan menjadi karya lintas disiplin yang dipresentasikan kepada publik, mitra, dan pemangku kepentingan pada puncak acara ini.
UIC College sendiri berfokus pada pengembangan talenta muda melalui pembelajaran berbasis industri dan kebutuhan sosial. Pendekatan ini bukan hanya mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S1) di luar negeri, tetapi juga membekali mereka dengan soft skills yang relevan, mulai dari cara membaca konteks, menguji ide, hingga menyusun solusi yang aplikatif.
Komitmen USG Education: Pendidikan yang Tidak Berhenti di Konsep
CEO USG Education, Adhirama G. Tusin, menegaskan bahwa UIC Creative Showcase dirancang untuk mengintegrasikan pendidikan dengan penguatan budaya dan dampak sosial-ekonomi melalui model kolaborasi lintas pihak. Menurutnya, karya kreatif perlu dibangun melalui proses yang nyata, bukan sekadar tugas akademik, agar menghasilkan output yang relevan bagi masyarakat dan ekosistem daerah.
“UIC Creative Showcase dibangun di atas model kolaborasi yang saling menguatkan. Kolaborasi ini memastikan proses kreatif mahasiswa UIC College tidak berhenti di konsep, tetapi diwujudkan dalam solusi nyata untuk UMKM dan pelestarian budaya Lampung. Dari eksplorasi lapangan hingga showcase karya, pendidikan yang ‘hidup’ ini membekali mereka strategi bisnis, branding, dan kampanye yang aplikatif, sekaligus menciptakan dampak nyata dan keberlanjutan bagi talenta dan budaya lokal,” ujar Adhirama.
Ia menambahkan bahwa UIC College sebagai bagian dari USG Education menempatkan project-based learning sebagai metode utama, agar mahasiswa terbiasa membaca konteks, menguji ide, dan mempresentasikan solusi yang bisa dipakai.
Heritage adalah Masa Depan yang Hidup
Bagi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, cara memandang heritage akan menentukan daya saing ekonomi kreatif berbasis budaya. Neli Yana, Direktur Kriya pada Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, menegaskan bahwa bahwa warisan budaya perlu terus dihidupkan agar tetap relevan dan bermartabat, serta memiliki nilai tambah ekonomi.
“Bagi kami, warisan budaya adalah modal strategis ekonomi kreatif yang harus terus dihidupkan, bukan hanya dilestarikan. Melalui kolaborasi seperti UIC Creative Showcase, kami mendorong agar kekayaan budaya daerah dapat diolah secara kreatif oleh generasi muda menjadi produk, gagasan, dan model bisnis yang relevan dengan pasar, tanpa kehilangan nilai dan identitas budayanya,” demikian disampaikan Neli Yana.
Neli juga menekankan bahwa keberlanjutan karya kreatif membutuhkan “jalan lanjut”, bukan berhenti pada selebrasi.
“Kami mendorong agar karya-karya seperti ini punya market dan jalur yang jelas: melalui kualitas dan kurasi, penguatan desain dan storytelling, akses promosi dan pasar, serta peluang kolaborasi dengan UMKM dan pemerintah daerah. Di situlah karya anak muda benar-benar bertemu kebutuhan pasar dan bisa berkelanjutan,” lanjutnya.
Keterlibatan talenta muda sebagai jembatan antara tradisi dan cara komunikasi yang dekat dengan generasi hari ini merupakan satu hal penting. Karena ketika anak muda ikut terlibat, heritage tidak berhenti sebagai simbol. Ia menjadi inspirasi karya, inovasi, dan peluang yang menguatkan ekosistem kriya dan ekonomi kreatif Lampung secara berkelanjutan.
Suara Daerah: Inspirasi UMKM Lampung
Bagi Lampung, keterlibatan talenta muda menjadi jembatan penting antara tradisi dan cara komunikasi yang dekat dengan generasi hari ini, agar warisan tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi inspirasi karya, inovasi, dan peluang ekonomi.
Ibu Gubernur Provinsi Lampung sekaligus Ketua Dekranasda Provinsi Lampung, Hj. Purnama Wulan Sari Mirza, menilai kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemerintah pusat menjadi kunci agar kriya Lampung tidak hanya dikenal, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami ingin warisan budaya Lampung terus hidup dan memberi nilai tambah nyata bagi masyarakat. Kolaborasi dengan UIC College dan dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif membuka ruang bagi UMKM Lampung untuk naik kelas, mulai dari penguatan desain, narasi, hingga akses promosi dan pasar—dengan tetap menjaga nilai budaya sebagai identitas daerah,” ujar Purnama Wulan Sari Mirza.
Dari Lapangan hingga Panggung: Pengalaman Belajar yang Membumi
Yang membedakan UIC Creative Showcase dengan pameran kampus pada umumnya adalah prosesnya. Program ini diawali dengan fase riset lapangan yang membuat para siswa melihat budaya bukan sebagai “tema”, tetapi sebagai realitas yang memiliki aktor, ekosistem, serta tantangan.
Dalam rangkaian tersebut, para siswa berinteraksi dengan pelaku UMKM, mengikuti workshop, dan melakukan eksplorasi konteks budaya serta pariwisata. Rangkaian kunjungan juga mencakup destinasi seperti Taman Nasional Way Kambas (Lampung Timur) dan kawasan pantai di Kabupaten Pesawaran, yang menjadi bagian dari pemahaman konteks daerah secara menyeluruh.
Puncak rangkaian program digelar pada Selasa, 3 Februari 2026 di USG Education BSD Campus, Tangerang, Banten, sebagai panggung presentasi output karya dan gagasan mahasiswa lintas jurusan. Yang ditampilkan tidak hanya “bagus dilihat”, tetapi dituntut untuk menjawab pertanyaan yang lebih berat: karya ini menyelesaikan masalah apa, dan berdampak untuk siapa?
Ariyani Mawardi, COO USG Education menekankan bahwa kekuatan program ini ada pada proses belajar di lapangan, bukan hanya produksi karya di kelas.
“Para siswa memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari para pelaku UMKM di Provinsi Lampung melalui berbagai workshop yang diselenggarakan di Dekranasda Provinsi Lampung dalam rangkaian Study Week Lampung 2025. Program ini dirancang agar generasi muda mengenal lebih dekat kerajinan dan pariwisata Lampung, sekaligus memahami bagaimana nilai tradisional dapat tetap hidup dan relevan di era modern,” ujar Ariyani.
UIC Creative Showcase menjadi ruang pembuktian bahwa karya generasi muda dapat membawa pesan strategis, bahwa warisan budaya perlu dijaga, sekaligus dikemas agar mudah dipahami generasi masa kini tanpa mengorbankan nilai aslinya.
Highlight Karya Lintas Jurusan: Karya yang Punya Konteks dan Fungsi
Sebagai puncak rangkaian program, UIC Creative Showcase 2026 menampilkan karya dan proyek lintas disiplin yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki konteks dan fungsi untuk penguatan UMKM serta promosi budaya Lampung, antara lain:
Jurusan Business menampilkan strategi promosi dan penjualan kreatif, termasuk pengembangan konsep merchandise yang mengikuti tren pasar sebagai inspirasi bagi UMKM Lampung.
Jurusan Fashion menghadirkan karya busana terinspirasi kain serta simbol khas Lampung melalui peragaan busana.
Jurusan Computing mengembangkan platform e-commerce untuk galeri Dekranasda Provinsi Lampung guna memperluas jangkauan pasar secara digital.
Jurusan Audio Music Production berkolaborasi dengan Computing untuk mengembangkan aplikasi streaming bekerja sama dengan Alun App, platform musik untuk healing atau music therapy yang terinspirasi alat musik tradisional Lampung seperti Serdam, Talo Balak, dan Gamolan Pekhing. Mahasiswa juga menghadirkan karya lagu terinspirasi puisi sastrawan Lampung, Udo Z. Karzi.
Jurusan Design menyelenggarakan pameran seni (art exhibition) terinspirasi elemen visual, budaya, dan kekayaan alam Lampung melalui pendekatan desain kontemporer.
Acara UIC Creative Showcase ini didukung oleh para juri yang berasal dari:
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif: Neli Yana, S.Sos, M.Si (Direktur Kriya), Benedictus Permadi, S.Ds., M.M. (Kepala Subdirektorat Pemasaran dan Komersialisasi Kriya), dan Yanuar Arief, S.E. (Ketua Pokja Arsitektur dan Desain Interior, Direktorat Arsitektur dan Desain)
Dekranasda Provinsi Lampung: Ratih Puspa Sari (Wakil Sekretaris Dekranasda Provinsi Lampung), Dendy Mashuri, S.H., M.A., M.P.P. (Sekretaris Dekranasda Provinsi Lampung), Dra. Heni Astuti, M. IP (Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung), dan Hayudian Utomo, S.Sos., M.M. (Kepala Bidang Pengawasan, Kerjasama dan Pembangunan Sumberdaya Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung).
Fashion designer: Rinda Salmun dan Yosafat Dwi Kurniawan
Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI): Andre Aditya Manggala dan Christa Linggar
Pada akhirnya, yang ingin dibuktikan program ini sederhana: ketika pendidikan bertemu proyek nyata, talenta muda tidak hanya membangun portofolio, mereka ikut membangun ekosistem. Dan ketika heritage diperlakukan sebagai masa depan yang hidup, Indonesia tidak kehilangan identitas saat bergerak maju. It all starts here.
































Comments